http://bali1ce.wordpress.com/tag/wisata-subak/
subak adalah organsasi kemasyarakatan ynag khusus mengatur system pengairan sawah yang digunakan dalam bercocok taman di Bali. Subak ini biasanya memiliki pura yang dinamakan Pura Uluncarik atau pura bedugul yang khusus dibangun oleh para petani dan diperuntukkan bagi dewi kemakmuran dan kesuburan,yakni Dewi Sri. System penngairan ini diatur oleh seorang pemuka adat yang juga adalah seorang petani di Bali.
Para petani membangun subak dengan landasan filosofi “Tri Hita Karana” yang menekankan pada keseimbangn dan keharmonisan yakni keseimbangn dan keharmonisan manusia dengan Tuhan, antarmanusia, manusia dengan lingkungannya. Ini berarti bahwa subak memiliki potensi yang sangat besar untuk berperan sebagai pengelola sumber daya alam guna mendukung pembangunan Bali yang berkelanjutan.
Adanya revolusi hijau di era globalisasi ini telah menyebabkan terjadinya perubahan pada sistem pertanian di Indonesia. Dengan adanya varietas padi yang baru dan metode yang baru, pare petani harus menanam padi sesering mungkin, dengan mengabaikan kebutuhan petani lainnya. Hal itu sangatlah berbeda dengan system subak yang diterapkan oleh petani di pulau Bali yang dimana kebutuhan seluruh petani lebih diutamakan. Metode yang baru pada revolusi hijau menghasilkan pada awalnya hasil yang melimpah, tetapi kemudian diikuti dengan kendala-kendala seperti kekurangan air, hama dan polusi akibat pestisida baik di tanah maupun di air. Akhirnya ditemukan bahwa sistem pengairan sawah secara tradisional sangatlah efektif untuk menanggulangi kendala ini.
Pengaturan air dengan sistem subak diatur dalam semacam undang-undang yang disebut dengan “awig-awig”. Dalam awig-awig inilah dimuat pokok-pokok aturan subak. Pembagian air disesuaikan dengan keanggotaan petani di subak, ada anggota aktif dan anggota pasif, keduanya mendapatkan pembagian jumlah air yang berbeda. Inilah prinsip keadilan dimana pembagian disesuaikan dengan kontribusi. Adanya pembagian seperti ini menjadikan sawah para petani yang tergabung dalam organisasi subak tidak pernah mengalami kekeringan.
Para petani Bali yang tergabung dalam subak berperan penting dalam meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Selain meningkatkan hasil pertanian, petani Bali juga emnjadikan hamparan sawah menjadi lebih indah. Para petani beanggapan bahwa hamparan sawah yang dimiliki oleh Pulau Bali merupakan salah satu kekayaan alam dengan nilai estetis yang sangat tinggi.
Berkat para petani Bali yang berkerja keras, keadaan hamparan sawah di Bali menjadi suatu pemandangan yang indah dan lestari. Petak-petak sawah yang terbuat dengan sistem terasering desertai pula dengan pepohonan yang rimbun. Tumbuhnya pepohonan yang hijau di tengah-tengah persawahan tersebut sangat membantu petani dalam menjaga bentuk terasering agar tetap sedap dipandang mata, terutama wisatawan yang tertarik untuk menikmatinya.
Menjelang era globalisasi, banyak masalah yang menerjang eksistensi subak di Pulau Bali. Dan salah satunya ialah, organisasi subak ataupun lahan pertanian mengalami ancaman kepunahan karena terjadinya pengalihan fungsi lahan menjadi areal non pertanian. Ditengah-tengah maraknya pengalihan fungsi lahan tersebut, para petabi di Bali harus tetap mempertahankan persawahannya meskipun para petani harus merelakan hasil panennya dipasarkan dengan hasil yang seimbang karena kuatnya persaingan dari produk asing yang sudah banyak beredar di Bali. Di sisi lain, meskipun hasil panen tersebut tidak diimbangi dengan harga yang tinggi, para petani tetap berbangga hati karena sanggup mempertahankan system subak d yang merupakan salah satu “tulang punggung” kebudayaan Bali dan menjadikan hamparan sawah yang produktif dan kaya akan keindahan serta keasrian sebuah asset yang tak ternilai bagi pulai Bali.
Sistem subak di pulau Bali secara lagsung telah menciptakan sebuah pengaturan lahan pertanian yang berwawasan pariwisata. Yang dimana hal tersebut menjadi daya tarik yang luar biasa karena tidak akan mampu ditemukan di lokasi lain. Hal tersebut dikarenakan para petani di Bali tidak hanya menciptakan lahan yang produktif, tapi juga dapat memancarkan sebuah aura keindahan yang dapat memikat berjuta pasang mata wisatawan. Dan diharapkan para petani dapat mempertahankan eksistensi subak ditengah dasyatnya modernisasi di semua aspek kehidupan.
Tampilkan postingan dengan label subak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label subak. Tampilkan semua postingan
Rabu, 07 Maret 2012
Subak
Subak
http://wisatadewata.com/article/wisata/subak
Mata pencaharian penduduk di Bali antara lain meliputi pekerjaan sebagai petani, pengrajin, dan beraneka ragam jenis usaha di bidang jasa khususnya bidang pariwisata. Bertani merupakan mata pencaharian hidup yang paling utama dari sebagian besar masyarakat Bali. Jenis pertanian di pulau dewata ini meliputi pertanian sawah dan juga perkebunan. Di dalam sistem pertanian di Bali, "subak" sangatlah memegang peranan penting.
Subak adalah salah satu bentuk lembaga kemasyarakatan pada masyarakat Bali yang bersifat tradisional dan yang dibentuk secara turun temurun oleh masyarakat umat Hindu Bali. Subak berfungsi sebagai satu kesatuan dari para pemilik sawah atau penggarap sawah yang menerima air irigasi dari satu sumber air atau bendungan tertentu. Subak merupakan satu kesatuan ekonomi, sosial, budaya dan keagamaan. Pada umumnya tugas setiap warga subak adalah untuk mengatur pembagian air, memelihara dan memperbaiki sarana irigasi, melakukan kegiatan pemberantasan hama, melakukan inovasi pertanian dan mengkonsepsikan serta mengaktifkan kegiatan upacara. Karena subak memiliki struktur yang berlandaskan konsepsi Tri Hita Karana yaitu suatu konsepsi yang mengintegrasikan secara selaras tiga komponen penyebab kesejahteraan dan kebahagiaan hidup yang diyakini oleh masyarakat Bali, sehingga setiap subak di Bali harus memiliki pura pemujaan. Subak yang ada di pulau Bali berjumlah sekitar 1.482 buah dan subak abian berjumlah 698 buah.
http://wisatadewata.com/article/wisata/subak
Mata pencaharian penduduk di Bali antara lain meliputi pekerjaan sebagai petani, pengrajin, dan beraneka ragam jenis usaha di bidang jasa khususnya bidang pariwisata. Bertani merupakan mata pencaharian hidup yang paling utama dari sebagian besar masyarakat Bali. Jenis pertanian di pulau dewata ini meliputi pertanian sawah dan juga perkebunan. Di dalam sistem pertanian di Bali, "subak" sangatlah memegang peranan penting.
Subak adalah salah satu bentuk lembaga kemasyarakatan pada masyarakat Bali yang bersifat tradisional dan yang dibentuk secara turun temurun oleh masyarakat umat Hindu Bali. Subak berfungsi sebagai satu kesatuan dari para pemilik sawah atau penggarap sawah yang menerima air irigasi dari satu sumber air atau bendungan tertentu. Subak merupakan satu kesatuan ekonomi, sosial, budaya dan keagamaan. Pada umumnya tugas setiap warga subak adalah untuk mengatur pembagian air, memelihara dan memperbaiki sarana irigasi, melakukan kegiatan pemberantasan hama, melakukan inovasi pertanian dan mengkonsepsikan serta mengaktifkan kegiatan upacara. Karena subak memiliki struktur yang berlandaskan konsepsi Tri Hita Karana yaitu suatu konsepsi yang mengintegrasikan secara selaras tiga komponen penyebab kesejahteraan dan kebahagiaan hidup yang diyakini oleh masyarakat Bali, sehingga setiap subak di Bali harus memiliki pura pemujaan. Subak yang ada di pulau Bali berjumlah sekitar 1.482 buah dan subak abian berjumlah 698 buah.
Senin, 05 Maret 2012
“Turun ke Sawah, Yuk!”
Wisata Pedesaan : “Turun ke Sawah, Yuk!”
Sabtu, 24-03-2007 13:34:26 oleh: Tarjum
Kanal: Gaya Hidup
Bagi anda yang hobi wisata alam atau berpetualang, wisata ke daerah pedesaan bisa menjadi pilihan menarik yang patut dipertimbangkan. Yang saya maksud “Wisata Pedesaan” di sini, bukan sekedar berwisata ke suatau tempat dengan suasana pedesaan, tapi benar-benar berkunjung ke sebuah desa, berbaur dan bergaul dengan para penduduk desa.
Menginap di rumah petani, ngobrol, makan dan minum bersama petani. Jadi benar-benar wisata pedesaan, bukan sekedar suasananya yang dibuat mirip alam pedesaan. Dan kalau anda mau, untuk lebih mengkhayati napas kehidupan para petani di pedesaan, anda bisa ikut ke ladang atau turun ke sawah bekerja dengan para petani. Pergi pagi hari ketika matahari belum terbit, berjalan kaki dari rumah ke sawah atau ladang, bekerja di ladang atau sawah saat terik mentari menyengat dan pulang sore hari menjelang matahari terbenam. Semua itu akan menjadi pengalaman yang luar biasa dan sangat berkesan saat anda kembali pulang ke kota.
Bagi anda yang tinggal di belantara beton perkotaan yang hiruk-pikuk, bising, sesak dan pengap oleh polusi udara, suasana pedesaan yang hening, tenang dan bersih dari polusi, akan membuat tubuh, jiwa dan pikiran anda kembali jernih dan segar. Coba anda dengarkan ini: suara kicauan burung aneka rupa, gemericik air selokan yang mengalir cepat di pinggir sawah, desiran angin yang berhembus lembut, suara bebek yang hilir mudik di pematang sawah, ditimpali nyanyian katak yang saling bersahutan, sungguh merupakan irama musik alam nan indah tiada tandingannya.
Duduklah di gubuk sawah yang bertiang bambu dan beratap ilalang. Pandanglah ke sekeliling: hamparan padi yang hijau bak permadani bergoyang bergelombang di tiup angin persawahan, daun-daun padi berkilauan diterpa sinar mentari. Burung pipit berhamburan terbang ke pepohonan di pinggir sawah ketika orang-orangan sawah yang dihiasi plastik dan kaleng-kaleng bekas bergoyang saat talinya ditarik dari pinggir sawah. Kupu-kupu berwarna-warni beterbangan dengan riangnya melintasi persawahan, sesekali hinggap di bunga-bunga liar yang mekar di pematang pinggir sawah.
Burung Kuntul putih tampak terbang melesat dari pepohonan, menukik menyambar ikan yang lengah di selokan sawah. Lihatlah dengan seksama, dengarkan, rasakan dan nikmatilah suasana alam pedesaan dengan segala kesahajaan dan keasliannya. Anda akan benar-benar merasa menyatu dengan suasana alam yang indah menakjubkan.
Tunggu apa lagi? berkunjunglah ke pedesaan, turunlah ke sawah, nikamatilah suasana lingkungan dan alam pedesaan yang alami, bersih asri dan indah menyegarkan jiwa dan raga. Tulisan berikutnya (ke-II) akan membahas tentang asyiknya “Turun ke Sawah” bergumul dengan lumpur sawah. Teman-teman Wikimu, sampai jumpa di gubuk sawah.
http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=1865
Sabtu, 24-03-2007 13:34:26 oleh: Tarjum
Kanal: Gaya Hidup
Bagi anda yang hobi wisata alam atau berpetualang, wisata ke daerah pedesaan bisa menjadi pilihan menarik yang patut dipertimbangkan. Yang saya maksud “Wisata Pedesaan” di sini, bukan sekedar berwisata ke suatau tempat dengan suasana pedesaan, tapi benar-benar berkunjung ke sebuah desa, berbaur dan bergaul dengan para penduduk desa.
Menginap di rumah petani, ngobrol, makan dan minum bersama petani. Jadi benar-benar wisata pedesaan, bukan sekedar suasananya yang dibuat mirip alam pedesaan. Dan kalau anda mau, untuk lebih mengkhayati napas kehidupan para petani di pedesaan, anda bisa ikut ke ladang atau turun ke sawah bekerja dengan para petani. Pergi pagi hari ketika matahari belum terbit, berjalan kaki dari rumah ke sawah atau ladang, bekerja di ladang atau sawah saat terik mentari menyengat dan pulang sore hari menjelang matahari terbenam. Semua itu akan menjadi pengalaman yang luar biasa dan sangat berkesan saat anda kembali pulang ke kota.
Bagi anda yang tinggal di belantara beton perkotaan yang hiruk-pikuk, bising, sesak dan pengap oleh polusi udara, suasana pedesaan yang hening, tenang dan bersih dari polusi, akan membuat tubuh, jiwa dan pikiran anda kembali jernih dan segar. Coba anda dengarkan ini: suara kicauan burung aneka rupa, gemericik air selokan yang mengalir cepat di pinggir sawah, desiran angin yang berhembus lembut, suara bebek yang hilir mudik di pematang sawah, ditimpali nyanyian katak yang saling bersahutan, sungguh merupakan irama musik alam nan indah tiada tandingannya.
Duduklah di gubuk sawah yang bertiang bambu dan beratap ilalang. Pandanglah ke sekeliling: hamparan padi yang hijau bak permadani bergoyang bergelombang di tiup angin persawahan, daun-daun padi berkilauan diterpa sinar mentari. Burung pipit berhamburan terbang ke pepohonan di pinggir sawah ketika orang-orangan sawah yang dihiasi plastik dan kaleng-kaleng bekas bergoyang saat talinya ditarik dari pinggir sawah. Kupu-kupu berwarna-warni beterbangan dengan riangnya melintasi persawahan, sesekali hinggap di bunga-bunga liar yang mekar di pematang pinggir sawah.
Burung Kuntul putih tampak terbang melesat dari pepohonan, menukik menyambar ikan yang lengah di selokan sawah. Lihatlah dengan seksama, dengarkan, rasakan dan nikmatilah suasana alam pedesaan dengan segala kesahajaan dan keasliannya. Anda akan benar-benar merasa menyatu dengan suasana alam yang indah menakjubkan.
Tunggu apa lagi? berkunjunglah ke pedesaan, turunlah ke sawah, nikamatilah suasana lingkungan dan alam pedesaan yang alami, bersih asri dan indah menyegarkan jiwa dan raga. Tulisan berikutnya (ke-II) akan membahas tentang asyiknya “Turun ke Sawah” bergumul dengan lumpur sawah. Teman-teman Wikimu, sampai jumpa di gubuk sawah.
http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=1865
SUBAK BAGIAN DARI SENI BUDAYA BALI
SUBAK BAGIAN DARI SENI BUDAYA BALI
http://binginbanjah.wordpress.com/2011/02/10/subak-bagian-dari-seni-budaya-bali/
Organisasi pengairan tradisional dalam bidang pertanian (subak), menjadi bagian dari unsur seni dan budaya yang diwarisi secara turun temurun oleh masyarakat di Pulau Dewata.
“Masyarakat dan kebudayaan Bali bergerak secara dinamis, dalam satu dekade terakhir mengalami perkembangan yang pesat,” kata Gurubesar Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Prof. Dr. I Wayan Windia di Denpasar, Jumat.
Ia mengatakan, faktor yang mendorong
an dalam menikmati liburan ke Bali,” ujar Windia.
Ia berpendapat, untuk menjaga kesinambungan subak, Pemkab/Pemkot hendaknya segera membentuk “Sedahan Agung” yang kehadirannya sejajar dengan Dinas, agar mampu mengayumi organisasi Subak.
“Sedahan agung” selama ini telah ada, namun bernaung di bawah Dinas Pendapatan, atau Dinas Pariwisata maupun Dinas Kebudayaan sesuai kondisi masing-masing kabupaten dan kota.
Kondisi tersebut menjadikan subak menghadapi berbagai kendala, tantangan dan hambatan, antara lain areal subak berubah menjadi tempat pemukiman, penghuninya membuang sampah sembarangan di arean persubakan.
Selain itu, air untuk irigasi subak di bagian hulu dimanfaatkan untuk bahan baku perusahaan air minuman dalam kemasan.
Anggota subak dengan berbagai kendala dan hambatan yang dihadapi itu, hanya bisa mengeluh dan menggerutu, tanpa ada instansi teknis yang membantu mengatasinya.
Kondisi itu akan berbeda dengan “Sedahan Agung” yang sejajar dengan dinas yang khusus memperhatikan dan menampung aspirasi anggota subak, kata Windia menjelaskan.
sejarah subak di bali, seni budaya bali, SEJARAH subak, bagian bagian seni budaya, budaya subak, kebudayaan bali, subak, kondisi subak di bali, apakah budaya menjadi bagian dari seni, bangain bangian seni budaya
http://binginbanjah.wordpress.com/2011/02/10/subak-bagian-dari-seni-budaya-bali/
Organisasi pengairan tradisional dalam bidang pertanian (subak), menjadi bagian dari unsur seni dan budaya yang diwarisi secara turun temurun oleh masyarakat di Pulau Dewata.
“Masyarakat dan kebudayaan Bali bergerak secara dinamis, dalam satu dekade terakhir mengalami perkembangan yang pesat,” kata Gurubesar Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Prof. Dr. I Wayan Windia di Denpasar, Jumat.
Ia mengatakan, faktor yang mendorong
an dalam menikmati liburan ke Bali,” ujar Windia.
Ia berpendapat, untuk menjaga kesinambungan subak, Pemkab/Pemkot hendaknya segera membentuk “Sedahan Agung” yang kehadirannya sejajar dengan Dinas, agar mampu mengayumi organisasi Subak.
“Sedahan agung” selama ini telah ada, namun bernaung di bawah Dinas Pendapatan, atau Dinas Pariwisata maupun Dinas Kebudayaan sesuai kondisi masing-masing kabupaten dan kota.
Kondisi tersebut menjadikan subak menghadapi berbagai kendala, tantangan dan hambatan, antara lain areal subak berubah menjadi tempat pemukiman, penghuninya membuang sampah sembarangan di arean persubakan.
Selain itu, air untuk irigasi subak di bagian hulu dimanfaatkan untuk bahan baku perusahaan air minuman dalam kemasan.
Anggota subak dengan berbagai kendala dan hambatan yang dihadapi itu, hanya bisa mengeluh dan menggerutu, tanpa ada instansi teknis yang membantu mengatasinya.
Kondisi itu akan berbeda dengan “Sedahan Agung” yang sejajar dengan dinas yang khusus memperhatikan dan menampung aspirasi anggota subak, kata Windia menjelaskan.
sejarah subak di bali, seni budaya bali, SEJARAH subak, bagian bagian seni budaya, budaya subak, kebudayaan bali, subak, kondisi subak di bali, apakah budaya menjadi bagian dari seni, bangain bangian seni budaya
Sistem Subak Sebagai Sistem Irigasi Masa Depan
Sistem Subak Sebagai Sistem Irigasi Masa Depan
Kadek Fendy Sutrisna
17 Juli 2011
“Museum Subak Mandala Mathika terdapat di desa Sungulan Tabanan”
SISTEM subak merupakan suatu warisan budaya Bali yang berupa suatu sistem irigasi yang mengatur pembagian pengelolaan airnya yang berdasarkan pada pola-pikir harmoni dan kebersamaan yang berlandaskan pada aturan-aturan formal dan nilai-nilai agama.
Pengelolaan sistem irigasi konvensional cenderung hanya berdasarkan pada konsep-konsep efisiensi berdasarkan aturan-aturan formal, dengan pola pikir ekonomik.
Sementara itu, konsep-konsep efektivitas, nilai-nilai religi, dan pengelolaan sistem irigasi yang berlandaskan harmoni dan kebersamaan, ditata secara baik dan fleksibel pada sistem subak di Bali ini. [1]
Latar belakang didirikannya organisasi ini beberapa ribu tahun yang lalu karena lingkungan topografi dan kondisi sungai-sungai di Bali yang curam. Hal ini menyebabkan sumber air pada suatu komplek persawahan petani umumnya cukup jauh dan terbatas.
Untuk dapat menyalurkan air ke sebuah kompleks persawahan, mereka harus membuat terowongan menembus bukit cadas. Kondisi inilah yang menyebabkan para petani Bali menghimpun diri dan membentuk organisasi Subak.
Subak dipimpin oleh seorang Kelian Subak atau Pekaseh yang mengoordinasi pengelolaan air berdasarkan tata tertib (Bahasa Bali: awig-awig) yang disusun secara egaliter.
Saat irigasi berjalan baik, mereka menikmati kecukupan air bersama-sama. Sebaliknya, pada saat air irigasi sangat kecil, mereka akan mendapat air yang terbatas secara bersama-sama.
Jadwal tanam dilaksanakan secara ketat. Waktu tanam ditetapkan dalam sebuah kurun tertentu. Umumnya, ditetapkan dalam rentang waktu dua minggu. Petani yang melanggar akan dikenakan sanksi.
Untuk memperoleh penggunaan air yang optimal dan merata, air yang berlebihan dapat dibuang melalui saluran drainasi yang tersedia pada setiap komplek sawah milik petani.
Sementara itu, untuk mengatasi masalah kekurangan air yang tidak terduga, mereka melakukannya dengan cara-cara seperti:
1. Saling pinjam meminjam air irigasi antar anggota subak dalam satu subak, atau antar subak yang sistemnya terkait.
2. Melakukan sistem pelampias, yakni kebijakan untuk memberikan tambahan air untuk lahan sawah yang berada lebih di hilir. Jumlah tambahan air ditentukan dengan kesepakatan bersama.
3. Melakukan sistem pengurangan porsi air yang harus diberikan pada suatu komplek sawah milik petani tertentu, bila sawah tersebut telah mendapatkan tirisan air dari suatu kawasan tertentu di sekitarnya.
4. Jika debit air irigasi sedang kecil, petani anggota subak tidak dibolehkan ke sawah pada malam hari, pengaturan air diserahkan kepada pengurus Subak.
Kelemahan paling menonjol dari sistem irigasi tradisional adalah ketidakmampuannya untuk membendung pengaruh luar yang menggerogoti artefaknya, yang terwujud dalam bentuk alih fungsi lahan, sehingga eksistensi sistem irigasi tradisional termasuk didalamnya sistem subak di Bali menjadi terseok-seok.
Beberapa tahun yang lalu, revolusi hijau telah menyebabkan perubahan pada sistem irigasi tradisional, dengan adanya varietas padi yang baru dan metode yang baru, para petani harus menanam padi sesering mungkin, dengan mengabaikan kebutuhan petani lainnya. Metode yang baru pada revolusi hijau ini pada awalnya menghasilkan hasil panen yang melimpah, tetapi kemudian diikuti dengan kendala-kendala seperti kekurangan air, hama dan polusi akibat pestisida baik di tanah maupun di air.
Sistem Subak memiliki karakteristik unik apabila dibandingkan dengan sistem tradisional lainnya, yaitu selalu memiliki pura yang dinamakan Pura Uluncarik atau Pura Bedugul yang khusus dibangun oleh para petani untuk memuja Tuhan. Keberadaan pura-pura ini sebagai ungkapan rasa syukur dan terimakasih para petani yang ditujukan untuk memuja Dewi Sri sebagai manifestasi Tuhan YME sebagai dewi kemakmuran dan kesuburan.
Dengan selalu mengutamakan pola-pikir harmoni dan kebersamaan yang berlandaskan pada aturan-aturan formal dan nilai-nilai agama diharapkan sistem irigasi tradisional subak ini dapat membendung pengaruh luar untuk menjaga eksistensinya di masa yang akan datang.
Permasalahan Masa Kini Sistem Subak : Pengaruh Faktor Ekonomi
Penelitian yang dilakukan Sigit Supadmo Arif, dkk. terhadap sistem subak di Bali menunjukkan bahwa faktor ekonomi sangat mempengaruhi perubahan-perubahan yang terjadi pada lembaga tersebut. [2,3]
Oleh karenanya, antisipasi yang harus dilakukan untuk mampu melestarikan sistem subak di Bali adalah dengan melakukan pendekatan-pendekatan ekonomi.
Misalnya, pertama, memperkuat lembaga ekonomi seperti koperasi tani, lembaga perkreditan subak, dan lain-lain yang ada pada sistem subak. Langkah kedua adalah dengan meringankan beban ekonomi anggota subak. Langkah ketiga adalah dengan berusaha meningkatkan semangat kerja para pekaseh untuk mengurus pengelolaan sistem irigasi. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan honorarium bagi para pekaseh.
Dalam kaitan dengan permasalahan ekonomi ini, tentu saja kemauan politik dan uluran tangan dari pihak Pemprop Bali sangat penting dalam menjaga keberlangsungan sistem subak di Bali. Sejarah subak di Bali pada masa kerajaan terdahulu terlihat jelas peranan raja-raja sangat berpengaruh dalam perkembangan dan keberlangsungan subak untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.
KESIMPULAN
Subak sebagai lembaga yang berwatak sosio-kultural memiliki kekuatan dan kearifan, yakni fleksibel dan mampu menyerap teknologi pertanian maupun menyerap kebudayaan yang berkembang pada masyarakat sekitarnya. Dengan demikian, setiap kegiatan dalam subak selalu mencerminkan keseimbangan hubungan yang harmonis dan serasi sesama manusia, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa yaitu Tri Hita Karana.
Bali mempunyai potensi besar dalam bidang pertanian, hal itu dilihat dari posisi geografis dengan empat danau besar yang mampu memberikan pembagian air secara merata. Tiga buah danau yang meliputi Danau Beratan, Buyan, dan Tamblingan berfungsi sebagai sumber air bagi Bali tengah, barat, dan selatan. Sementara Danau Batur di Bangli sebagai sumber air di Bali timur.
Perkembangan teknologi yang sangat pesat menyebabkan sistem pertanian di Bali berubah dari sistem tradisional ke sistem pertanian konvensional, sekaligus tanah yang tadinya subur berubah menjadi tidak subur karena banyak keanekaragaman hayati hilang. Tanaman jeruk yang tadinya menjadi tumpuan hidup masyarakat tidak lagi bisa berkembang, dan mangga yang tadinya manis berubah menjadi masam. Oleh sebab itu, pengembangan pertanian organik yang dirintis Pemerintah Provinsi Bali akan mampu mendukung upaya mengembalikan kesuburan tanah, sekaligus pelestarian alam dan seni budaya, terutama yang terkandung dalam subak.
Referensi :
1. Wayan Windia, Pergeseran Subak, dari Harmoni ke Ekonomi ; Sustainability of “Subak” Irrigation System in Bali.
2. Arif, S.S.1998. Keberlanjutan Sistem Irigasi dalam Pembangunan Jangka Panjang Kedua (Studi Kasus di Jawa dan Bali)
3. Arif,S.S.l999. Applying Philosophy of Tri Hita Karana in Design and Management of Subak Irrigation System, dalam A Study of the Subak as Indigenous Cultural, Social, and Technological System, to Establish a Culturally based Integrated Water Resources Management Vol.III (ed: S. Susanto), Fac. of Agric.Technology, Gadjah Mada Univ, Yogya.
4. http://rumahtani.multiply.com
5. Kompas, Subak Bali Sistem Pengairan Terbaik
http://indone5ia.wordpress.com/2011/07/17/sistem-subak-sebagai-sistem-irigasi-masa-depan/
Kadek Fendy Sutrisna
17 Juli 2011
“Museum Subak Mandala Mathika terdapat di desa Sungulan Tabanan”
SISTEM subak merupakan suatu warisan budaya Bali yang berupa suatu sistem irigasi yang mengatur pembagian pengelolaan airnya yang berdasarkan pada pola-pikir harmoni dan kebersamaan yang berlandaskan pada aturan-aturan formal dan nilai-nilai agama.
Pengelolaan sistem irigasi konvensional cenderung hanya berdasarkan pada konsep-konsep efisiensi berdasarkan aturan-aturan formal, dengan pola pikir ekonomik.
Sementara itu, konsep-konsep efektivitas, nilai-nilai religi, dan pengelolaan sistem irigasi yang berlandaskan harmoni dan kebersamaan, ditata secara baik dan fleksibel pada sistem subak di Bali ini. [1]
Latar belakang didirikannya organisasi ini beberapa ribu tahun yang lalu karena lingkungan topografi dan kondisi sungai-sungai di Bali yang curam. Hal ini menyebabkan sumber air pada suatu komplek persawahan petani umumnya cukup jauh dan terbatas.
Untuk dapat menyalurkan air ke sebuah kompleks persawahan, mereka harus membuat terowongan menembus bukit cadas. Kondisi inilah yang menyebabkan para petani Bali menghimpun diri dan membentuk organisasi Subak.
Subak dipimpin oleh seorang Kelian Subak atau Pekaseh yang mengoordinasi pengelolaan air berdasarkan tata tertib (Bahasa Bali: awig-awig) yang disusun secara egaliter.
Saat irigasi berjalan baik, mereka menikmati kecukupan air bersama-sama. Sebaliknya, pada saat air irigasi sangat kecil, mereka akan mendapat air yang terbatas secara bersama-sama.
Jadwal tanam dilaksanakan secara ketat. Waktu tanam ditetapkan dalam sebuah kurun tertentu. Umumnya, ditetapkan dalam rentang waktu dua minggu. Petani yang melanggar akan dikenakan sanksi.
Untuk memperoleh penggunaan air yang optimal dan merata, air yang berlebihan dapat dibuang melalui saluran drainasi yang tersedia pada setiap komplek sawah milik petani.
Sementara itu, untuk mengatasi masalah kekurangan air yang tidak terduga, mereka melakukannya dengan cara-cara seperti:
1. Saling pinjam meminjam air irigasi antar anggota subak dalam satu subak, atau antar subak yang sistemnya terkait.
2. Melakukan sistem pelampias, yakni kebijakan untuk memberikan tambahan air untuk lahan sawah yang berada lebih di hilir. Jumlah tambahan air ditentukan dengan kesepakatan bersama.
3. Melakukan sistem pengurangan porsi air yang harus diberikan pada suatu komplek sawah milik petani tertentu, bila sawah tersebut telah mendapatkan tirisan air dari suatu kawasan tertentu di sekitarnya.
4. Jika debit air irigasi sedang kecil, petani anggota subak tidak dibolehkan ke sawah pada malam hari, pengaturan air diserahkan kepada pengurus Subak.
Kelemahan paling menonjol dari sistem irigasi tradisional adalah ketidakmampuannya untuk membendung pengaruh luar yang menggerogoti artefaknya, yang terwujud dalam bentuk alih fungsi lahan, sehingga eksistensi sistem irigasi tradisional termasuk didalamnya sistem subak di Bali menjadi terseok-seok.
Beberapa tahun yang lalu, revolusi hijau telah menyebabkan perubahan pada sistem irigasi tradisional, dengan adanya varietas padi yang baru dan metode yang baru, para petani harus menanam padi sesering mungkin, dengan mengabaikan kebutuhan petani lainnya. Metode yang baru pada revolusi hijau ini pada awalnya menghasilkan hasil panen yang melimpah, tetapi kemudian diikuti dengan kendala-kendala seperti kekurangan air, hama dan polusi akibat pestisida baik di tanah maupun di air.
Sistem Subak memiliki karakteristik unik apabila dibandingkan dengan sistem tradisional lainnya, yaitu selalu memiliki pura yang dinamakan Pura Uluncarik atau Pura Bedugul yang khusus dibangun oleh para petani untuk memuja Tuhan. Keberadaan pura-pura ini sebagai ungkapan rasa syukur dan terimakasih para petani yang ditujukan untuk memuja Dewi Sri sebagai manifestasi Tuhan YME sebagai dewi kemakmuran dan kesuburan.
Dengan selalu mengutamakan pola-pikir harmoni dan kebersamaan yang berlandaskan pada aturan-aturan formal dan nilai-nilai agama diharapkan sistem irigasi tradisional subak ini dapat membendung pengaruh luar untuk menjaga eksistensinya di masa yang akan datang.
Permasalahan Masa Kini Sistem Subak : Pengaruh Faktor Ekonomi
Penelitian yang dilakukan Sigit Supadmo Arif, dkk. terhadap sistem subak di Bali menunjukkan bahwa faktor ekonomi sangat mempengaruhi perubahan-perubahan yang terjadi pada lembaga tersebut. [2,3]
Oleh karenanya, antisipasi yang harus dilakukan untuk mampu melestarikan sistem subak di Bali adalah dengan melakukan pendekatan-pendekatan ekonomi.
Misalnya, pertama, memperkuat lembaga ekonomi seperti koperasi tani, lembaga perkreditan subak, dan lain-lain yang ada pada sistem subak. Langkah kedua adalah dengan meringankan beban ekonomi anggota subak. Langkah ketiga adalah dengan berusaha meningkatkan semangat kerja para pekaseh untuk mengurus pengelolaan sistem irigasi. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan honorarium bagi para pekaseh.
Dalam kaitan dengan permasalahan ekonomi ini, tentu saja kemauan politik dan uluran tangan dari pihak Pemprop Bali sangat penting dalam menjaga keberlangsungan sistem subak di Bali. Sejarah subak di Bali pada masa kerajaan terdahulu terlihat jelas peranan raja-raja sangat berpengaruh dalam perkembangan dan keberlangsungan subak untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.
KESIMPULAN
Subak sebagai lembaga yang berwatak sosio-kultural memiliki kekuatan dan kearifan, yakni fleksibel dan mampu menyerap teknologi pertanian maupun menyerap kebudayaan yang berkembang pada masyarakat sekitarnya. Dengan demikian, setiap kegiatan dalam subak selalu mencerminkan keseimbangan hubungan yang harmonis dan serasi sesama manusia, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa yaitu Tri Hita Karana.
Bali mempunyai potensi besar dalam bidang pertanian, hal itu dilihat dari posisi geografis dengan empat danau besar yang mampu memberikan pembagian air secara merata. Tiga buah danau yang meliputi Danau Beratan, Buyan, dan Tamblingan berfungsi sebagai sumber air bagi Bali tengah, barat, dan selatan. Sementara Danau Batur di Bangli sebagai sumber air di Bali timur.
Perkembangan teknologi yang sangat pesat menyebabkan sistem pertanian di Bali berubah dari sistem tradisional ke sistem pertanian konvensional, sekaligus tanah yang tadinya subur berubah menjadi tidak subur karena banyak keanekaragaman hayati hilang. Tanaman jeruk yang tadinya menjadi tumpuan hidup masyarakat tidak lagi bisa berkembang, dan mangga yang tadinya manis berubah menjadi masam. Oleh sebab itu, pengembangan pertanian organik yang dirintis Pemerintah Provinsi Bali akan mampu mendukung upaya mengembalikan kesuburan tanah, sekaligus pelestarian alam dan seni budaya, terutama yang terkandung dalam subak.
Referensi :
1. Wayan Windia, Pergeseran Subak, dari Harmoni ke Ekonomi ; Sustainability of “Subak” Irrigation System in Bali.
2. Arif, S.S.1998. Keberlanjutan Sistem Irigasi dalam Pembangunan Jangka Panjang Kedua (Studi Kasus di Jawa dan Bali)
3. Arif,S.S.l999. Applying Philosophy of Tri Hita Karana in Design and Management of Subak Irrigation System, dalam A Study of the Subak as Indigenous Cultural, Social, and Technological System, to Establish a Culturally based Integrated Water Resources Management Vol.III (ed: S. Susanto), Fac. of Agric.Technology, Gadjah Mada Univ, Yogya.
4. http://rumahtani.multiply.com
5. Kompas, Subak Bali Sistem Pengairan Terbaik
http://indone5ia.wordpress.com/2011/07/17/sistem-subak-sebagai-sistem-irigasi-masa-depan/
Panorama Sawah Jadi Tujuan Wisata
Panorama Sawah Jadi Tujuan Wisata
Sabtu, 7 Mei 2011 - 10:46 WIB
http://poskota.co.id/berita-terkini/2011/05/07/panorama-sawah-jadi-tujuan-wisata
BERBAGAI cara dilakukan untuk menarik wisatawan. Dan suguhan apa saja, kalau dikelola dengan bagus dan rapi, tentu akan menarik perhatian wisatawan tersebut, contohnya menjual keindahan alam, meski hal itu tadinya yang biasa dilihat sehari-hari.
Menjual potensi alam yang memiliki nilai jual untuk dijadikan obyek wisata, kini bukan saja hanya dapat dibidik pemerintah, terutama pemerintah daerah, tapi swasta terbuka luas memburu potensi alam itu.
Mereka ramai-ramai memburu obyek wisata alam yang masih perawan untuk dikembangkan, kemudian dijual ke pengunjung sebagai salah satu kebutuhan dalam hidupnya.
Di Jalan Raya Bandung-Nagreg-Limbangan, tepatnya di Desa Ciaro, Nagreg, Kabupaten Bandung, ada Bale Tineung Wisata Sawah yang dikembangkan swasta.
Yakni obyek wisata sawah yang dibuat indah, sehingga menarik hati pengunjungnya. Ini merupakan salah satu bukti nyata potensi wisata perawan yang kini dikembangkan pihak swasta.
Meski usianya baru mencapai lima tahun, tapi potensi alam yang ada di daerah itu, kini sudah mampu menjadi daerah tujuan wisata (DTW).
Dalam usia lima tahun, DTW Bale Tineng Wisata Sawah atau yang lebih dikenal wisata Asep Trowberry, memang lagi lucu-lucunya. Pembangunan sarana fisik sebagai penunjang sarana wisata terus dilakukan.
Beberapa obyek wisata yang dapat ditawarkan ke pengujung kini terus dibenahi supaya memiliki nilai jual yang memuaskan di mata pengujung.
BERBENTUK TERASIRING
Konsep pengembangan daerah tujuan wisata yang ditawarkan dan diterapkan pengusaha H. Asep Haelusna, yakni back to nature (kembali ke alam). Lahan seluas 6 hektar kini disulap menjadi DTW yang unik, indah dan mempesona.
Hamparan sawah, bukti, sungai dan pematang sawah yang ada di areal itu sejak tahun 2005 terus dipoles hingga mampu berdiri daerah wisata yang tak kalah keindahannya dibanding wisata lain yang ada di wilayah Kabupaten Bandung.
Asep, menceritakan, awalnya tahun 2005 setelah melakukan survei menemukan adanya keindahan alam berupa sawah yang berbentuk terasiring.
Terasiring yang dimiliki daerah itu, apalagi jika dilihat dari atas persis pemandangan terasering di Ubud Bali. Karena itu, tak sedikit pengunjung baik lokal maupun dari luar negeri selalu menyebutnya terasiring semi Ubud Bali.
BANGUN SAUNG
Untuk menjual keindahan sawah itu, pria jebolan seni rupa IKIP (UPI) Bandung, mencoba membangun 29 tabel (saung) tempat makan yang posisinya menghadap ke pemandangan areal sawah.
Awalnya saung yang dibangun hanya sebatas tempat transit perjalanan Bandung-Nagreg-Tasikmalaya, namun usaha tersebut ternyata mendapat sambutan yang meriah dari pengunjung.
Seiring membludaknya tamu, Asep terus melakukan pengembangan hingga kini lahannya terus meluas hingga 6 hektar.
Saung pun terus bermunculan dan jumlahnya mencapai 73 yang dilengkapi mesjid serta penginapan.
Di tempat ini pengunjung bisa juga menikmati berbagai jenis sajian kuliner yang diolah di tempat tersebut.
Dari sekian banyak kuliner yang bisa dipesan dan disuguhkan, di tempat wisata ini diam-diam memiliki dua jenis kuliner yang dijadikan andalan.
Sebut saja, nasi liwet non koresterol dan minuman juice yang kadar strowberry-nya hampir 100 persen.
Nasi liwet yang bisa disantap manakala terserang lapar, memang bukan sembarangan liwet seperti yang kita sering dapati. Liwet ini dimatangkan dikastrol atau kendil, setelah diberi racikan rempah-rempah yag memiliki korelasi dengan kesehatan tubuh.
Dalam meracik liwet ini, demikian sang pionir wisata sawah Asep, diciptakan dengan konsep lebih mengedapankan cita rasa. Liwet yang sudah matang dengan bau aroma khas itu, sudah bisa disajikan manakala kita memesannya.
RUTE perjalanan menuju obyek wisata ini tergolong cukup mudah. Jika pengunjung berasal dari Jakarta dan sekitarnya, maka kendaraan pribadi bisa meluncur dari Jakarta menuju Bandung melalui Tol Purbalenyi.
Dari pintu Tol Cileunyi, kendaraan bisa melaju ke arah Tasikmalaya melalui jalur Malangbong.
Setelah melewati turunan Nagreg, kita harus pelan lantaran tempat wisata ini sudah dekat dan lokasinya berada di sebelah kiri (Bale Tineung Wisata Sawah Asep Strawbery).
Jika pengunjung menggunakan kendaraan umum, dari Jakarta bisa naik kendaraan umum (bus) yang ke Banjar atau Tasikmalaya. Ketika sudah memasuki turunan Nagreg, kita harus hati-hati karena obyek wisata sudah dekat. Minta bantuan kondektur untuk berhenti di obyek wisata Asep Strawbery.
Manakala kendaraan pribadi datang dari arah Pangandaran, Jawa Tengah, Tasikmalaya, kendaraan harus berhenti sebelum tanjakan Nagreg. Posisi obyek wisata Asep Strawbery berada di sebelah kanan jalan raya. Menggunakan angkutan umum naik bus atau elf yang menuju Bandung, atau Jakarta, kemudian minta berhenti di Asep Strawbery. sebelum tanjakan Nagreg. Mudah bukan?(dono darsono/ds)
Sabtu, 7 Mei 2011 - 10:46 WIB
http://poskota.co.id/berita-terkini/2011/05/07/panorama-sawah-jadi-tujuan-wisata
BERBAGAI cara dilakukan untuk menarik wisatawan. Dan suguhan apa saja, kalau dikelola dengan bagus dan rapi, tentu akan menarik perhatian wisatawan tersebut, contohnya menjual keindahan alam, meski hal itu tadinya yang biasa dilihat sehari-hari.
Menjual potensi alam yang memiliki nilai jual untuk dijadikan obyek wisata, kini bukan saja hanya dapat dibidik pemerintah, terutama pemerintah daerah, tapi swasta terbuka luas memburu potensi alam itu.
Mereka ramai-ramai memburu obyek wisata alam yang masih perawan untuk dikembangkan, kemudian dijual ke pengunjung sebagai salah satu kebutuhan dalam hidupnya.
Di Jalan Raya Bandung-Nagreg-Limbangan, tepatnya di Desa Ciaro, Nagreg, Kabupaten Bandung, ada Bale Tineung Wisata Sawah yang dikembangkan swasta.
Yakni obyek wisata sawah yang dibuat indah, sehingga menarik hati pengunjungnya. Ini merupakan salah satu bukti nyata potensi wisata perawan yang kini dikembangkan pihak swasta.
Meski usianya baru mencapai lima tahun, tapi potensi alam yang ada di daerah itu, kini sudah mampu menjadi daerah tujuan wisata (DTW).
Dalam usia lima tahun, DTW Bale Tineng Wisata Sawah atau yang lebih dikenal wisata Asep Trowberry, memang lagi lucu-lucunya. Pembangunan sarana fisik sebagai penunjang sarana wisata terus dilakukan.
Beberapa obyek wisata yang dapat ditawarkan ke pengujung kini terus dibenahi supaya memiliki nilai jual yang memuaskan di mata pengujung.
BERBENTUK TERASIRING
Konsep pengembangan daerah tujuan wisata yang ditawarkan dan diterapkan pengusaha H. Asep Haelusna, yakni back to nature (kembali ke alam). Lahan seluas 6 hektar kini disulap menjadi DTW yang unik, indah dan mempesona.
Hamparan sawah, bukti, sungai dan pematang sawah yang ada di areal itu sejak tahun 2005 terus dipoles hingga mampu berdiri daerah wisata yang tak kalah keindahannya dibanding wisata lain yang ada di wilayah Kabupaten Bandung.
Asep, menceritakan, awalnya tahun 2005 setelah melakukan survei menemukan adanya keindahan alam berupa sawah yang berbentuk terasiring.
Terasiring yang dimiliki daerah itu, apalagi jika dilihat dari atas persis pemandangan terasering di Ubud Bali. Karena itu, tak sedikit pengunjung baik lokal maupun dari luar negeri selalu menyebutnya terasiring semi Ubud Bali.
BANGUN SAUNG
Untuk menjual keindahan sawah itu, pria jebolan seni rupa IKIP (UPI) Bandung, mencoba membangun 29 tabel (saung) tempat makan yang posisinya menghadap ke pemandangan areal sawah.
Awalnya saung yang dibangun hanya sebatas tempat transit perjalanan Bandung-Nagreg-Tasikmalaya, namun usaha tersebut ternyata mendapat sambutan yang meriah dari pengunjung.
Seiring membludaknya tamu, Asep terus melakukan pengembangan hingga kini lahannya terus meluas hingga 6 hektar.
Saung pun terus bermunculan dan jumlahnya mencapai 73 yang dilengkapi mesjid serta penginapan.
Di tempat ini pengunjung bisa juga menikmati berbagai jenis sajian kuliner yang diolah di tempat tersebut.
Dari sekian banyak kuliner yang bisa dipesan dan disuguhkan, di tempat wisata ini diam-diam memiliki dua jenis kuliner yang dijadikan andalan.
Sebut saja, nasi liwet non koresterol dan minuman juice yang kadar strowberry-nya hampir 100 persen.
Nasi liwet yang bisa disantap manakala terserang lapar, memang bukan sembarangan liwet seperti yang kita sering dapati. Liwet ini dimatangkan dikastrol atau kendil, setelah diberi racikan rempah-rempah yag memiliki korelasi dengan kesehatan tubuh.
Dalam meracik liwet ini, demikian sang pionir wisata sawah Asep, diciptakan dengan konsep lebih mengedapankan cita rasa. Liwet yang sudah matang dengan bau aroma khas itu, sudah bisa disajikan manakala kita memesannya.
RUTE perjalanan menuju obyek wisata ini tergolong cukup mudah. Jika pengunjung berasal dari Jakarta dan sekitarnya, maka kendaraan pribadi bisa meluncur dari Jakarta menuju Bandung melalui Tol Purbalenyi.
Dari pintu Tol Cileunyi, kendaraan bisa melaju ke arah Tasikmalaya melalui jalur Malangbong.
Setelah melewati turunan Nagreg, kita harus pelan lantaran tempat wisata ini sudah dekat dan lokasinya berada di sebelah kiri (Bale Tineung Wisata Sawah Asep Strawbery).
Jika pengunjung menggunakan kendaraan umum, dari Jakarta bisa naik kendaraan umum (bus) yang ke Banjar atau Tasikmalaya. Ketika sudah memasuki turunan Nagreg, kita harus hati-hati karena obyek wisata sudah dekat. Minta bantuan kondektur untuk berhenti di obyek wisata Asep Strawbery.
Manakala kendaraan pribadi datang dari arah Pangandaran, Jawa Tengah, Tasikmalaya, kendaraan harus berhenti sebelum tanjakan Nagreg. Posisi obyek wisata Asep Strawbery berada di sebelah kanan jalan raya. Menggunakan angkutan umum naik bus atau elf yang menuju Bandung, atau Jakarta, kemudian minta berhenti di Asep Strawbery. sebelum tanjakan Nagreg. Mudah bukan?(dono darsono/ds)
Langganan:
Postingan (Atom)